Pakar: Waspada Emisi Gas Rumah Kaca

Ilustrasi polusi udara di Jakarta. (Foto: Antara)

Jakarta, Beritasatu.com – Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa meminta agar seluruh pihak dapat mewaspadai emisi gas rumah kaca. Mahawan menyebut kondisi lingkungan hidup ekosistem daratan secara umum ada perbaikan. Begitu juga dengan kualitas udara. Namun, indeks kualitas air mengalami penurunan.

“Namun yang paling penting adalah bahwa kita harus memperhatikan benar emisi gas rumah kaca, baik secara global maupun nasional yang masih terus meningkat. Laporan terakhir PBB bahwa para ahli memperkirakan kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi kita akan meningkat 1,5 derajat Celsius dalam waktu 5 tahun ke depan,” kata Mahawan kepada Beritasatu.com, Sabtu (5/6/2021).

Menurut Mahawan, hal-hal tersebut yang menjadi terpenting terkait dampak kerusakan lingkungan. Dikatakan, kenaikan suhu yang bisa melampaui 1,5 derajat Celsius berimplikasi pada dampak di Indonesia terutama tiga bencana, yakni tanah longsor, angin puting beliung dan banjir.

Terkait bencana tersebut, lanjut Mahawan, berkaitan kualitas air, udara dan tutupan lahan, tentu saja berdampak pada kesehatan lingkungan. Ini yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat luas.

“PR (pekerjaan rumah) pemerintah di dekade ini sudah saatnya mempercepat investasi hijau di Indonesia. Hal ini harus dilakukan secara masif, termasuk juga dalam hal ilmu pengetahuan, inovasi dan teknologi khususnya berkaitan dengan teknologi hijau untuk energi terbarukan yakni energi yang ramah lingkungan,” ungkapnya.

Berkaitan dengan kondisi perubahan iklim, penting bagi pemerintah Indonesia meningkatkan kompetensi dari pengambil kebijakan mengenai pentingnya transformasi pembangunan. Kesadaran ini perlu sekali dikembangkan.

“Dari studi yang saya lakukan, kompetensi ini masih banyak lobang untuk ditingkatkan melalui lembaga administrasi negara maupun lembaga pelatihan di masing-masing kementerian teknis,” kata Mahawan.

Untuk masyarakat sendiri banyak hal yang perlu diupayakan, terkait restorasi lingkungan. Dari sisi upaya mengembalikan kondisi lingkungan sekitar seperti menanam pohon dan konsumsi pangan. Kemudian diversifikasi bahan pangan perlu diperhatikan. Tanaman pangan harus menyesuaikan lingkungan sekitar sehingga tidak merusak lingkungan.

Selain itu khusus penggunaan air dan energi, menurut Mahawan, perlu dilakukan secara bijak. Masyarakat perlu berhemat karena penduduk semakin bertambah. Sementara untuk sampah bisa dimanfaatkan untuk proses produksi atau sekuler ekonomi. Hal ini bisa dilakukan di level masyarakat secara komunal.

“Pola pembangunan yang berubah kita perlu menuju ekonomi hijau. Jadi masyarakat perlu mendukungnya seperti mengonsumsi barang-barang yang ramah lingkungan, meski harganya lebih sedikit mahal saat ini. Pihak swasta dan pemerintah juga memanfaatkan energi dari panas bumi, baterai listrik, mobil listrik dan beralih dari energi fosil ke energi terbarukan,” ujar Mahawan.

 

Sumber: BeritaSatu.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *