Published On: 21 January 2026
Sampah dibuang sembarangan meski ada spanduk larangan buang sampah di kawasan Mampang Prapatan, Selasa (20/1/2026).(KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN)

Sampah dibuang sembarangan meski ada spanduk larangan buang sampah di kawasan Mampang Prapatan, Selasa (20/1/2026).(KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN)

Perilaku membuang sampah sembarangan kerap dipandang sebagai tindakan sepele, nyaris tak berarti.

Bungkus plastik yang dijatuhkan di jalan, sedotan yang dilempar ke selokan, atau sampah rumah tangga yang dialirkan ke sungai sering kali dianggap tidak akan menimbulkan dampak apa pun.

Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang dan oleh banyak orang itulah yang perlahan membentuk persoalan besar di ruang kota.

Sampah menumpuk di drainase, aliran sungai menyempit, kualitas lingkungan menurun, dan risiko banjir serta penyakit meningkat dari waktu ke waktu.

Pengamat Lingkungan Mahawan Karuniasa menilai, perilaku buang sampah sembarangan telah mengalami proses normalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Tumpukan sampah di aliran selokan, Selasa (20/1/2026). (KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN)

Tumpukan sampah di aliran selokan, Selasa (20/1/2026). (KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN)

Ketika tindakan tersebut tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang salah, ia berubah menjadi kebiasaan kolektif yang sulit dikoreksi.

“Belum semuanya melihat bahwa membuang sampah sembarangan itu hal yang buruk. Masih ada yang merasa bahwa itu biasa-biasa saja, meskipun bukan baik, itu merasa biasa-biasa saja bukan hal yang buruk,” katanya saat dihubungi, Selasa (20/1/2026).

Lebih dari 60 Persen Sampah Tak Terkelola

Mahawan Karuniasa menyebut, sebagian besar sampah di Indonesia masih berada di luar sistem pengelolaan yang memadai.

Sebagian besar merupakan berasal dari sampah yang dibuang secara sembarangan.

“Jadi kan kita ini ada sampah yang tidak terkelola itu cukup besar, 60 persen lebih yang tidak terkelola, dan sebagian itu otomatis yang tercecer, yang tercecer yang dibuang sembarangan itu,” kata dia.

Dari total sampah yang dihasilkan, Mahawan menjelaskan bahwa porsi sampah yang dibuang sembarangan sebesar 20 persen.

Angka ini, kata dia, menunjukkan bahwa perilaku individu memberi kontribusi signifikan terhadap persoalan struktural sampah.

“Ada beberapa catatan yang sampah yang dibuang sembarangan itu bisa mencapai lebih dari 20 persen, jadi cukup banyak yang dibuang itu,” kata dia.

Menurut dia, sampah yang dibuang sembarangan ini umumnya tidak langsung masuk ke tempat pembuangan akhir, melainkan tercecer di jalan, terbawa air hujan, dan berakhir di saluran air.

Hingga 20 Persen Volume Drainase Terisi Sampah

Mahawan mengatakan, akumulasi sampah liar memiliki dampak langsung terhadap fungsi drainase kota.

Ia menyebut, sejumlah penelitian mencatat sampah dapat mengisi porsi signifikan dari volume saluran air.

“Implikasinya itu bisa menyumbat saluran-saluran air, dan pernah juga ada penelitian sampah itu bisa mencapai 20 persen dari volume yang ada di drenase, sehingga ini menjadi dapat mengakibatkan menyumbat drenase,” ungkapnya.

Ketika drainase kehilangan kapasitasnya, kemampuan kota untuk mengalirkan air hujan ikut menurun.

Dampaknya sering kali baru terasa saat hujan deras terjadi.

80 Persen Sampah di Sungai hingga Laut Didominasi Plastik

Dari berbagai jenis sampah, plastik menjadi penyumbang terbesar pencemaran perairan.

Mahawan menegaskan, mayoritas sampah yang masuk ke sungai hingga laut adalah plastik.

“Dengan membuang sampah sembarangan, mayoritas justru plastik yang masuk ke sungai sampai ke laut, 80 persen itu plastik,” katanya.

Selain jumlahnya yang dominan, sifat plastik menjadikannya ancaman ganda bagi sistem drainase dan ekosistem air.

“Pertama karena faktornya kan plastik itu dia tidak tembus air dan tidak mudah dan butuh ada yang mencatat ribuan tahun untuk baru bisa terurai,” kata dia.

Karena tidak menyerap air dan sulit terurai, plastik mudah menumpuk dan membentuk sumbatan di saluran air.

“Oleh karena itu, dengan tidak terurai itu dan dia tidak tembus air, maka sampah plastik itulah yang menjadi faktor potensi untuk menyumbat saluran,” ujar dia.

Ancaman Kesehatan yang Tak Terlihat

Lebih lanjut, Mahawan menilai, ancaman sampah plastik tidak berhenti pada sumbatan drainase.

Dalam jangka panjang, plastik akan terurai menjadi partikel yang jauh lebih kecil dan berbahaya.

Mahawan menegaskan bahwa mikroplastik memiliki dampak langsung terhadap kesehatan manusia.

“Saya kira sudah banyak kita ketahui mikroplastik itu ukuran yang sangat kecil, sehingga bisa masuk ke aliran darah kita, berbagai penyakit bisa muncul dari situ,” ujar dia.

Sementara untuk sampah organik, kata Mahawan, dapat memicu bau, genangan, dan berkembangnya penyakit.

“Muncul bau, kemudian juga faktor penyakit, nyamuk di situ karena ada genangan, kemudian juga tikus, dan juga kualitas sanitasi menurun dengan adanya sampah-sampah yang tertumpuk di tempat-tempat terbuka, di ruang terbuka, maupun di selokan,” ujarnya.

Risiko Banjir

Dalam jangka panjang, dia bilang, sampah yang terus menumpuk akan mengubah kondisi sungai.

Endapan sampah memperkecil daya tampung aliran air.

“Kalau sampah masuk ke drainase, selokan, sungai, sungai kecil, makin lama makin banyak dan menumpuk tentu saja mengurangi kapasitas sungai,” kata dia.

Akibatnya, air lebih mudah meluap ke permukiman.

“Dengan volume yang bisa ditampung semakin kecil, maka lempasannya semakin banyak. Dan banjir otomatis berarti dampaknya,” ungkapnya.

Kurangnya Kesadaran Masyarakat

Perilaku membuang sampah sembarangan kerap terbentuk melalui kebiasaan yang berlangsung lama di lingkungan sekitar.

Warga Endang (45) mengaku tindakan tersebut bukan sesuatu yang baru ia lakukan, melainkan tumbuh dari apa yang sehari-hari ia lihat di sekitarnya.

“Kalau saya mah, dari dulu kayaknya udah gitu. Udah biasa juga sering liat orang buang bungkus rokok, plastik jajanan di pinggir jalan, jadi kebawa kebiasaan. Bukan baru-baru ini, emang dari lingkungan juga begitu,” kata Endang saat ditemui di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (20/1/2026).

Baginya, sampah yang dibuang terasa sepele dan tidak menimbulkan dampak langsung.

Luasnya jalan dan panjangnya selokan membuat tindakan tersebut seolah tidak berarti.

“Saya nganggepnya biasa aja. Kayak kan cuma satu orang. Tapi kalau semua gitu, numpuk juga jadinya,” kata dia.

Hal serupa diungkapkan Jaya (bukan nama sebenarnya), warga yang tinggal di sekitar aliran sungai di kawasan Pasar Minggu.

Ia mengaku telah lama menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga.

“Ya sekalian keluar aja mas. Sampah plastik bekas sarapan, kopi, ya tinggal lempar aja (ke Sungai). Udah kebiasaan dari dulu. Sungainya juga udah kotor,” ujarnya.

Dalam pandangan Jaya, sampah dalam jumlah kecil tidak dianggap berkontribusi langsung terhadap persoalan besar seperti banjir.

“Soal banjir mah itu urusan gede, bukan gara-gara plastik satu dua,” ungkapnya.

Ia juga menilai perilaku tersebut diperkuat oleh kebiasaan kolektif.

Ketika banyak orang melakukan hal serupa, rasa bersalah perlahan menghilang.

“Kalau cuma saya doang mungkin malu, tapi ini satu banyak juga yang begitu. Pagi-pagi rame mas lihat aja, pada lempar sampah dari atas jembatan,” kata dia.

Etika Moral

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai perilaku buang sampah sembarangan tidak semata disebabkan kurangnya fasilitas, melainkan berakar pada hilangnya kesadaran dan etika moral di masyarakat.

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, yang menurutnya berhasil membangun budaya bersih melalui kesadaran kolektif yang telah tertanam sejak lama, bukan dengan menyediakan banyak tempat sampah.

“Di taman kota, di ruang-ruang publik, tidak ada tempat sampah. Orang-orang dipaksa untuk tidak buang sampah karena nilai kesadarannya sudah tertanam,” ujarnya saat dihubungi, Selasa.

Meski masih terdapat anomali seperti puntung rokok yang dibuang sembarangan, Rakhmat menilai secara umum negara-negara tersebut memiliki fondasi moralitas yang kuat, sehingga warganya lebih tertib dan peduli terhadap lingkungan.

Sebaliknya, di Indonesia, kerap dijumpai perilaku buang sampah sembarangan di berbagai ruang publik, termasuk di jalan raya.

Perlunya Edukasi Berkelanjutan

Rakhmat menekankan bahwa persoalan sampah harus diselesaikan secara paralel, antara pembenahan sistem pengelolaan oleh pemerintah dan upaya menumbuhkan kesadaran serta etika moral masyarakat.

Menurut dia, edukasi dan kampanye publik perlu dilakukan secara berkelanjutan dan sejak usia dini agar nilai menjaga kebersihan benar-benar tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

“Itu harus terus dikampanyekan, diedukasi, dipupuk sejak kecil, dan dilakukan secara terus-menerus,” ujarnya.

Sumber: Kompas

Share this information!

Leave a Reply