Menanam Trembesi, Menyerap Emisi

Perundingan perubahan iklim dunia atau Conference of the Parties (COP) 26 telah selesai dilaksanakan di Glasgow, Skotlandia, pada November 2021. Konferensi yang diharapkan banyak pihak menjadi tonggak perubahan dalam aksi iklim global nyatanya belum menghasilkan keputusan besar yang menjamin masa depan iklim dunia.

Menjaga dan merawat bumi melalui iklim penting untuk direalisasikan dan menjadi gerakan bersama. Hal ini mengingat perubahan iklim dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama penggunaan bahan bakar fosil, emisi gas rumah kaca, serta eksplorasi minyak dan gas bumi secara masif.

Melalui Paris Agreement, dengan skema Nationally Determined Contribution (NDC) seluruh negara diminta menyampaikan komitmennya untuk menjaga agar kenaikan suhu permukaan bumi tidak melampaui 1,5 derajat celsius. Sebelum tahun 2020, komitmen NDC negara-negara seluruh dunia masih di atas 50 GtCO2e pada 2030.

Namun, pada COP 26, sekretariat Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) menyampaikan dokumen laporan Update NDC Synthesis Report bahwa emisi global akan mencapai 40,4 GtCO2e pada 2030, lebih rendah dari laporan sebelumnya. Berbasiskan Long-term Strategy yang telah diserahkan berbagai negara, UNFCCC memperkirakan pada 2030 emisi global yang dihasilkan akan mencapai 29,7 GtCO2e. Perkiraan tersebut masih menghasilkan angka di atas batas maksimal, yaitu 25 GtCO2e, sehingga komitmen dan konsistensi negara-negara untuk mereduksi karbon menjadi faktor penentu.

Padahal, fakta menunjukkan bahwa dampak nyata perubahan iklim makin terasa. Belum lama terjadi banjir besar di China dan Eropa Barat akibat curah hujan ekstrem, dengan volume setara setahun atau beberapa bulan pada kondisi normal, tetapi hujan terjadi hanya dalam hitungan hari.

Fakta menunjukkan bahwa dampak nyata perubahan iklim makin terasa.

Di Indonesia dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan dengan hadirnya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung yang meningkat hampir 30 kali lipat pada dua dekade terakhir. Pada April 2021, bencana banjir bandang dan tanah longsor terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana tentu berdampak pada pola kehidupan para nelayan, petani, dan masyarakat perkotaan.

Warga menyelamatkan barang yang tersisa dari rumahnya pascabanjir bandang Dusun Batulayar Utara, Desa Batulayar Barat, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Selasa (7/12/2021). Banjir bandang pada Senin (6/12/2021) mengakibatkan empat warga meninggal, satu hilang, dan satu orang luka.

Ambisi aksi iklim Indonesia

Aksi reduksi karbon diupayakan melalui berbagai cara oleh pemerintah. Pada sektor kehutanan dilakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Pada 2020 kebakaran hutan dan lahan turun sebesar 82 persen. Selain itu, saat ini sebanyak 3 juta lahan telah berhasil direboisasi sejak 2010.

Sebagai langkah taktis, Indonesia menyampaikan dokumen utama pengendalian perubahan iklim nasional, yaitu Updated NDC dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR). Pada updated NDC, Indonesia berkomitmen akan fokus pada lima sektor, yaitu energi, limbah, industri, kehutanan, dan pertanian.

Melengkapi dokumen updated NDC, peta jalan NDC disusun sebagai pedoman bagi pemerintah, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menyukseskan pencapaian NDC. Sementara dokumen LTS-LCCR memuat target net-zero emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat, di mana sektor kehutanan menjadi prioritas. Dengan demikian, yang menjadi tantangan adalah konsistensi penghijauan hutan secara masif guna reduksi emisi.

Upaya mencapai target net-sink atau emisi bersih di bidang kehutanan pada 2030 dapat dilakukan melalui empat strategi, yaitu pembangunan hutan tanaman industri, penghijauan, reboisasi, dan pengembangan tanaman pertanian tahunan di areal tidak produktif. Penanaman pohon menjadi salah satu kunci tercapainya komitmen dan aksi iklim nasional terutama penanaman pohon yang mampu menyerap banyak emisi. Penanaman pohon dapat dimulai dari wilayah padat lalu lintas yang berpotensi menghasilkan emisi cukup tinggi.

Warga melintas di bawah kerindangan pohon munggur atau trembesi di sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, di Jalan Inspeksi, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rabu (24/11/2021).

Salah satu jenis pohon yang memiliki kemampuan tinggi untuk menyerap karbon adalah trembesi. Beberapa penelitian memberikan catatan yang berbeda dan cukup bervariasi terkait penyerapan karbon pohon trembesi.

Penelitian dari mahasiswa Universitas Bojonegoro yang dimuat dalam Jurnal Universitas Diponegoro tahun 2021 mencatat bahwa satu pohon trembesi dengan umur 6-17 tahun memiliki pertumbuhan tahunan biomassa 3,2 ton atau diperkirakan menyerap 1,5 ton karbon setiap tahun. Merujuk pada penelitian tersebut maka penanaman 10 juta trembesi berpotensi menambah simpanan 15 megaton karbon per tahun, atau setara dengan emisi lebih dari 6,8 juta penduduk Indonesia pada 2018 akibat penggunaan energi fosil.

Kembali merujuk pada target NDC, trembesi menawarkan tiga poin signifikan untuk membantu pemerintah mencapai net zero emission pada 2060, yaitu menyerap karbon yang tinggi dan cocok dengan iklim di Indonesia.

Menanam pohon adalah aksi nyata untuk mengurangi emisi, namun tentu aksi ini tetap perlu dibarengi dengan upaya lain seperti melaksanakan transisi energi baru terbarukan dan membangun perilaku ramah lingkungan. Pada akhirnya, reduksi karbon harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat melalui perannya masing-masing.

 

Mahawan Karuniasa, Dosen Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Founder/CEO Environment Institute, Ketua Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indoneisa

 

Source: KOMPAS

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.